*Sosial

Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Komisi PDUF MUI Jatim dan DMC Dompet Dhuafa Sasar Masjid, Sekolah dan Pesantren

32
×

Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Komisi PDUF MUI Jatim dan DMC Dompet Dhuafa Sasar Masjid, Sekolah dan Pesantren

Sebarkan artikel ini

SURABAYA | jejakkabar.com – Ancaman bencana gempa bumi, termasuk potensi gempa megathrust, menjadi perhatian penting dalam upaya membangun kesiapsiagaan masyarakat. Merespons hal tersebut, Komisi Pengembangan Dana Umat dan Filantropi (PDUF) MUI Jawa Timur bersama Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar rangkaian edukasi dan simulasi mitigasi bencana selama tiga hari, 28–30 Oktober 2026.

Kegiatan yang dilaksanakan di tiga lokasi, yakni Kantor MUI Jawa Timur, SMP Maryam Surabaya, dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini menyasar berbagai elemen masyarakat, mulai dari pengurus masjid dan musala, pelajar, hingga santri.

Program ini turut melibatkan Dompet Dhuafa dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur sebagai mitra kolaborasi dalam memperkuat edukasi dan kapasitas masyarakat menghadapi potensi bencana.

Pada pembukaan kegiatan di Kantor MUI Jawa Timur, hadir KH. Son Haji, Direktur Sosial Dakwah Dompet Dhuafa sekaligus Direktur Yayasan Sumberdaya Masyarakat Indonesia, yang menyampaikan keynote speech. Kehadiran beliau menjadi bentuk dukungan kelembagaan Dompet Dhuafa terhadap penguatan gerakan kemanusiaan dan kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas.

Tiga Hari, Tiga Lokasi, Perluas Jangkauan Edukasi

Rangkaian kegiatan diawali pada 28 Oktober 2026 di Kantor MUI Jawa Timur dengan melibatkan 50 peserta dari unsur pengurus masjid dan musala.

Selain mendapatkan sosialisasi mengenai mitigasi gempa bumi dan potensi megathrust, peserta juga berkesempatan mengikuti pengalaman simulasi menggunakan fasilitas simulator gempa di BPBD Jawa Timur. Kegiatan ini memberikan gambaran langsung mengenai situasi ketika terjadi gempa serta pentingnya memahami langkah penyelamatan diri dan prosedur evakuasi.

Pada 29 Oktober 2026, kegiatan berlanjut di SMP Maryam Surabaya dengan menyasar kalangan pelajar. Para peserta mendapatkan edukasi kebencanaan yang dilengkapi dua praktik simulasi, yakni simulasi gempa bumi dan simulasi pemadaman api ringan.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup pada 30 Oktober 2026 di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Para santri juga mendapatkan pembekalan mitigasi bencana serta mengikuti dua simulasi praktik, yaitu simulasi gempa bumi dan pemadaman api ringan.

Melalui pendekatan edukasi dan praktik langsung, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep mitigasi bencana, tetapi juga memiliki keterampilan dasar dalam menghadapi keadaan darurat.

Membangun Kesadaran Bencana dari Masjid hingga Pesantren

Ketua Komisi PDUF MUI Jawa Timur, KH. Miftah Jauhari, dalam pernyataan yang disiapkan untuk publikasi, menekankan pentingnya keterlibatan lembaga keagamaan dalam membangun budaya sadar bencana.

“Masjid, musala, sekolah, dan pesantren memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, edukasi mitigasi bencana perlu menjadi bagian dari penguatan kapasitas umat. Kita ingin membangun kesadaran bahwa menjaga keselamatan jiwa merupakan tanggung jawab bersama. Lembaga keagamaan harus turut mengambil peran dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana,” ungkap KH. Miftah Jauhari.

Sementara itu, KH. Son Haji dari Dompet Dhuafa menyoroti pentingnya kolaborasi antara lembaga filantropi, lembaga keagamaan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat gerakan kemanusiaan.

“Gerakan kemanusiaan tidak hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga harus dimulai dari upaya pencegahan dan kesiapsiagaan. Edukasi dan simulasi seperti ini menjadi investasi penting untuk membangun masyarakat yang lebih siap, tanggap, dan memiliki kepedulian terhadap keselamatan sesama. Dompet Dhuafa terus mendorong kolaborasi agar manfaat edukasi kebencanaan dapat menjangkau lebih banyak komunitas,” tutur KH. Son Haji.

BPBD: Simulasi Menjadi Bagian Penting Kesiapsiagaan

Dari unsur pemerintah, perwakilan BPBD Jawa Timur, Dadang, menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan praktik langsung.

“Pengetahuan tentang kebencanaan perlu diikuti dengan latihan dan simulasi. Masyarakat harus mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana. Dengan latihan yang berulang, diharapkan respons masyarakat menjadi lebih tepat dan tidak mudah panik ketika menghadapi situasi darurat,” ungkap Dadang.

Menurutnya, keterlibatan komunitas keagamaan dan lembaga pendidikan dapat membantu memperluas jangkauan edukasi kebencanaan hingga ke lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Peserta: Tidak Cukup Hanya Mengetahui, tetapi Harus Bisa Mempraktikkan

Salah satu peserta dari unsur pengurus masjid dan musala, Sunarto, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengalaman dan pengetahuan baru mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.

“Selama ini kita mungkin hanya mengetahui informasi tentang gempa bumi dari berita atau media sosial. Namun, melalui kegiatan ini kami mendapatkan pemahaman dan pengalaman langsung mengenai apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi. Ternyata kesiapsiagaan itu sangat penting. Kami berharap ilmu yang diperoleh dapat kami sampaikan kembali kepada jamaah dan masyarakat di lingkungan masjid,” ujar Sunarto.

Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan melibatkan lebih banyak pengurus masjid dan musala agar kesadaran kebencanaan semakin meluas.

Kolaborasi Lintas Lembaga, Wujud Kepedulian terhadap Keselamatan Umat

Kegiatan ini melibatkan jajaran Komisi PDUF MUI Jawa Timur, yakni KH. Miftah Jauhari selaku Ketua Komisi, Gus Moch Rizzqi Aladib selaku Sekretaris Komisi, dan Gus M. Syafi’i selaku Wakil Ketua Komisi PDUF.

Sementara itu, dari DMC Dompet Dhuafa, tim fasilitator yang terlibat terdiri dari Bapak Lukman, M. Syaiban, dan dr. Nurul. Tim fasilitator memberikan pendampingan edukasi dan praktik simulasi kebencanaan di setiap lokasi kegiatan.

Sinergi antara Komisi PDUF MUI Jawa Timur, Dompet Dhuafa, DMC Dompet Dhuafa, dan BPBD Jawa Timur menjadi wujud kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketangguhan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, masjid dan musala diharapkan dapat menjadi simpul edukasi kesiapsiagaan masyarakat, sekolah menjadi ruang pembelajaran budaya sadar bencana, serta pesantren menjadi komunitas yang memiliki kapasitas dalam melindungi keselamatan para santri dan seluruh warganya.

Gerakan ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan lembaga kemanusiaan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Dari masjid, sekolah, dan pesantren, kesadaran menjaga keselamatan jiwa dan membangun ketangguhan menghadapi bencana perlu terus ditumbuhkan.


Informasi kegiatan:

  • Penyelenggara: Komisi PDUF MUI Jawa Timur bersama DMC Dompet Dhuafa.
  • Mitra kolaborasi: Dompet Dhuafa dan BPBD Jawa Timur.
  • Waktu: 28–30 Oktober 2026.
  • Lokasi: Kantor MUI Jawa Timur dan BPBD Jawa Timur, SMP Maryam Surabaya, serta Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
  • Materi praktik: Simulasi gempa bumi, pemadaman api ringan, Fiqih Kebencanaan, Identifikasi dan Resiko Bencana, Masjid Tangguh Bencana, Peran MUI dalam Mitigasi Bencana, Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perlindungan Santri dan Deteksi dini, Mekanisme Pelaporan Dugaan Kekerasan