Uncategorized

Kemah Moderasi Beragama IPARI Surabaya Perkuat Kerukunan dan Kekompakan Penyuluh

2
×

Kemah Moderasi Beragama IPARI Surabaya Perkuat Kerukunan dan Kekompakan Penyuluh

Sebarkan artikel ini
Penyerahan Buku Menjaga Merah Putih Nusantara Pada Kepala kemenag kota Surabaya
Penyerahan Buku Menjaga Merah Putih Nusantara Pada Kepala kemenag kota Surabaya

PASURUAN I jejakkabar.com – Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD IPARI) Kota Surabaya menggelar Kemah Moderasi Beragama di kawasan Agrowisata Bhakti Alam, Pasuruan, pada 29–30 Juli 2026. Kegiatan tahunan tersebut menjadi sarana untuk memperkuat kekompakan, kebersamaan, dan kerukunan para penyuluh agama lintas keyakinan di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya.

Kegiatan ini dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Dr. H. Muhammad Muslim, M.Ag.; Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, Dr. H. Muhammad Yahya, M.Pd.; Ketua Pengurus Wilayah IPARI Jawa Timur, H. Syaifuddin Maarif; Bendahara PW IPARI Jawa Timur, H. Zakaria; serta Ketua PD IPARI Kota Surabaya, Hj. Rini Widiarti, M.H.

Kemah Moderasi Beragama juga diikuti seluruh penyuluh agama Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha yang bertugas di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya. Kehadiran para penyuluh lintas agama tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam merawat toleransi dan memperkuat kehidupan keagamaan yang harmonis.

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Dr. H. Muhammad Muslim, M.Ag., menegaskan bahwa penyuluh agama memiliki posisi strategis sebagai ujung tombak Kementerian Agama dalam memberikan pembinaan kepada masyarakat.

Menurutnya, penyuluh agama tidak hanya bertugas menyampaikan ajaran keagamaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kerukunan umat, memperkuat persatuan, serta menanamkan nilai-nilai moderasi beragama di tengah masyarakat.

“Penyuluh agama merupakan ujung tombak Kementerian Agama dalam menjaga kerukunan umat dan memperkuat moderasi beragama. Penyuluh harus hadir di tengah masyarakat sebagai pembimbing, penyejuk, dan penggerak terciptanya kehidupan sosial yang harmonis,” tegas Muhammad Muslim.

Ia berharap para penyuluh agama terus meningkatkan kompetensi, memperluas kolaborasi, dan membangun komunikasi yang baik dengan seluruh unsur masyarakat. Penyuluh juga diharapkan mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial dan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Setelah penyampaian sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan hadiah berupa buku berjudul Menjaga Merah Putih Nusantara: Peran Strategis Penyuluh Agama Islam dalam Persatuan, Kesatuan, dan Moderasi Beragama. Buku tersebut merupakan karya kolaboratif para penyuluh agama dari berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu penulis yang berasal dari Kota Surabaya adalah Prof. Dr. Moh. Mukhrojin. Kehadiran karya tersebut menjadi bukti kontribusi penyuluh agama dalam mengembangkan literasi keagamaan, kebangsaan, persatuan, dan moderasi beragama.

Kemah Moderasi Beragama dikemas melalui berbagai kegiatan edukatif, rekreatif, dan kebangsaan. Para peserta mengikuti permainan luar ruangan atau outbound, flying fox, parade busana adat Nusantara, pentas seni, serta kegiatan menyalakan api unggun.

Parade busana adat Nusantara menjadi salah satu kegiatan yang menarik perhatian peserta. Beragam pakaian adat yang dikenakan menggambarkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus menegaskan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan suku, budaya, dan agama.

Pentas seni dan api unggun juga menjadi ruang ekspresi sekaligus sarana membangun keakraban antarpeserta. Melalui kegiatan tersebut, para penyuluh lintas agama dapat berinteraksi secara lebih terbuka, memperkuat komunikasi, serta membangun rasa saling menghormati.

Selain kegiatan kebersamaan, peserta melaksanakan penanaman pohon sebagai implementasi Gerakan Ekoteologi. Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian penyuluh agama terhadap kelestarian lingkungan.

Gerakan ekoteologi menempatkan pemeliharaan alam sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan dan kemanusiaan. Melalui penanaman pohon, para penyuluh ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai agama tidak hanya diterapkan dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga dalam upaya menjaga alam dan keberlanjutan kehidupan.

Para peserta juga diajak berkeliling kawasan perkebunan Agrowisata Bhakti Alam. Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan, pelestarian tanaman, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab.

Dalam rangkaian acara tersebut, PD IPARI Kota Surabaya juga menyelenggarakan pelepasan penyuluh agama yang memasuki masa purna tugas di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya. Pelepasan tersebut menjadi bentuk penghargaan atas pengabdian, dedikasi, dan kontribusi para penyuluh selama menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

Ketua PD IPARI Kota Surabaya, Hj. Rini Widiarti, M.H., mengatakan bahwa Kemah Moderasi Beragama merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan untuk meningkatkan kekompakan dan kerukunan antarpelaksana tugas penyuluhan agama.

“Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan PD IPARI Kota Surabaya. Tujuannya untuk memperkuat kekompakan, meningkatkan kebersamaan, dan menjaga kerukunan antarpenyuluh agama di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya,” ujar Rini Widiarti.

Ia menjelaskan bahwa tugas penyuluh agama membutuhkan kerja sama, solidaritas, dan komunikasi yang kuat. Karena itu, kegiatan di luar rutinitas pelayanan diperlukan agar hubungan antarpelaksana penyuluhan semakin dekat dan harmonis.

Rini berharap semangat kebersamaan yang dibangun selama kegiatan tidak berhenti setelah kemah selesai. Nilai-nilai persaudaraan, moderasi beragama, kepedulian lingkungan, dan penghormatan terhadap keberagaman harus diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Melalui Kemah Moderasi Beragama 2026, PD IPARI Kota Surabaya berupaya membangun penyuluh agama yang profesional, rukun, berwawasan kebangsaan, serta mampu menjadi teladan dalam merawat persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut ditutup dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus memperkuat sinergi penyuluh agama lintas agama dalam menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat Kota Surabaya.