Pemerintahan

Muhammad Arifin, Dulu Santri Jalanan, Kini Raih Gelar Doktor

2
×

Muhammad Arifin, Dulu Santri Jalanan, Kini Raih Gelar Doktor

Sebarkan artikel ini
Dr. M. Arifin Menerima Ijasah S3 dari Dekan FISIP UNTAG Prof Rudi Handoko
Dr. M. Arifin Menerima Ijasah S3 dari Dekan FISIP UNTAG Prof Rudi Handoko

SURABAYA I jejakkabar.com – Tidak semua perjalanan menuju kesuksesan dimulai dari keadaan yang mudah. Ada yang harus melewati jalan panjang penuh tantangan, jatuh bangun, dan perjuangan tanpa henti. Kisah Muhammad Arifin menjadi salah satu bukti bahwa pendidikan, doa, dan ketekunan mampu mengubah arah kehidupan seseorang.

Dahulu ia dikenal sebagai anak yang harus merasakan kerasnya kehidupan jalanan. Namun keterbatasan tersebut tidak memadamkan semangatnya untuk belajar dan memperbaiki masa depan. Perjalanan hidupnya kemudian ditempa melalui pendidikan pesantren. Ia menjadi santri di Pondok Pesantren Nurul Khoir Surabaya dan juga menimba ilmu di Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk, salah satu pesantren tua di Jawa Timur yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi keilmuan Islam.

Lingkungan pesantren menjadi ruang pembentukan karakter Muhammad Arifin. Nilai kesederhanaan, kemandirian, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap ilmu menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya. Dari seorang santri yang pernah menghadapi keterbatasan, ia terus melangkah hingga mampu mencapai jenjang pendidikan tertinggi.

Kini, Muhammad Arifin berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Administrasi dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Gelar akademik tersebut diperoleh setelah menyelesaikan penelitian disertasi berjudul “Implementasi Kebijakan Digitalisasi Pengadaan Buku pada Satuan Pendidikan Dasar di Kota Surabaya.”

Dalam disertasinya, Muhammad Arifin mengkaji bagaimana kebijakan digitalisasi pengadaan buku melalui Sistem Informasi Pengadaan Sekolah (SIPLah) dan Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS) diterapkan untuk memperkuat transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan. Penelitian tersebut juga menghasilkan pengembangan Model Implementasi Digital–Administratif yang mengintegrasikan aspek teknologi digital, kapasitas sumber daya manusia, koordinasi kelembagaan, kepercayaan digital, dan tata kelola data.

Perjalanan akademik tersebut menjadi pencapaian luar biasa bagi sosok yang pernah berada dalam kondisi sulit. Muhammad Arifin tidak hanya berhasil memperoleh gelar doktor, tetapi juga mampu membangun kiprah profesional sebagai pengusaha di bidang buku, dosen pada perguruan tinggi swasta, serta dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara Umum PCNU Kota Surabaya.

Dunia buku menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Pengalaman sebagai pengusaha buku mempertemukan praktik lapangan dengan kajian akademik yang kemudian dituangkan dalam penelitian doktoralnya. Ia melihat bahwa buku bukan sekadar komoditas pendidikan, tetapi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.