SURABAYA I Jejakkabar.com- Kabar membanggakan datang dari Kabupaten Wakatobi. Surni, perempuan asal Suku Bajo, resmi meraih gelar Doktor dan mencatat sejarah sebagai perempuan pertama dari komunitasnya di Wakatobi yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang tertinggi tersebut.
Surni menyelesaikan Program Doktor di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya atau yang dikenal sebagai Kampus Merah Putih Untag Surabaya dan diwisuda Sabtu,14/02/2026 di UNTAG Surabaya, Keberhasilannya menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan masyarakat Bajo, yang selama ini dikenal sebagai komunitas pesisir dan laut.
Suku Bajo, yang sebagian besar hidup di atas perahu dan wilayah pesisir, kerap disebut sebagai “pengembara laut”. Kondisi geografis dan keterbatasan akses pendidikan membuat capaian pendidikan tinggi, khususnya bagi perempuan, masih tergolong langka. Banyak anak-anak Bajo menghadapi tantangan dalam mengakses pendidikan formal secara berkelanjutan.
Keberhasilan Surni tidak hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga simbol harapan baru bagi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di kalangan Suku Bajo. Dalam disertasinya, Surni membedah kebijakan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di komunitasnya, dengan menyoroti pentingnya pendekatan berbasis budaya dan kearifan lokal.
Menurutnya, kebijakan yang efektif harus memahami karakteristik sosial masyarakat Bajo, termasuk pola hidup, sistem kekerabatan, serta tantangan pendidikan dan ekonomi yang mereka hadapi. Ia menegaskan bahwa perempuan Bajo memiliki peran strategis dalam keluarga dan komunitas, sehingga penguatan kapasitas mereka akan berdampak langsung pada perlindungan anak.
Pencapaian ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan untuk lebih serius menghadirkan akses pendidikan yang inklusif dan berkeadilan bagi masyarakat pesisir, termasuk Suku Bajo. Gelar doktor yang diraih Surni membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.
Kini, Surni tidak hanya menyandang gelar akademik tertinggi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda Bajo, khususnya anak-anak perempuan, untuk terus bermimpi dan melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.






